JAKARTA — Komitmen Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni terhadap percepatan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) bukan sekadar retorika. Di balik pertemuan koordinasi yang berlangsung di Jakarta, Rabu (1/7), tersimpan rekam jejak konkret: lebih dari 3.020 pelajar daerah telah dikirim untuk menempuh pendidikan di perguruan tinggi dalam negeri maupun luar negeri, seluruhnya dibiayai penuh oleh pemerintah daerah dengan anggaran puluhan miliar rupiah setiap tahunnya.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Teluk Bintuni, Henry D. Kapuangan, hadir langsung dalam audiensi bersama Staf Ahli Pendidikan APKASI sekaligus Direktur Eksekutif Perpukadesi, Himmatul Hasanah beserta tim dari Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara. Pertemuan ini menjadi forum untuk mengevaluasi kolaborasi yang telah berjalan, sekaligus membuka ruang bagi pengembangan program-program baru yang relevan dengan kebutuhan Teluk Bintuni ke depan.
Evaluasi Program
Salah satu pokok bahasan utama adalah program Beasiswa Indonesia Emas-Daerah (BIE-D) dari Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI), yang telah diikuti Teluk Bintuni sejak 2024. Melalui program ini, sebanyak 12 mahasiswa asal Teluk Bintuni telah diberangkatkan untuk menempuh pendidikan tinggi.
Henry Kapuangan menyambut baik program tersebut dan mengapresiasi semangat kolaborasinya, namun sekaligus menyampaikan evaluasi yang jujur: beberapa penerima beasiswa mengalami kesulitan memenuhi standar akademik, sehingga indeks prestasi kumulatif (IPK) mereka berada di bawah ambang yang ditetapkan.
Ia menekankan bahwa persoalan ini tidak boleh dijadikan alasan untuk menghentikan program, melainkan menjadi bahan pembenahan. Ke depan, seleksi penerima beasiswa akan diperketat agar benar-benar menjangkau mereka yang memiliki kesiapan dan kemauan kuat untuk menyelesaikan studi. Di sisi lain, pendampingan selama masa perkuliahan juga perlu diperkuat, mengingat banyak faktor di luar kemampuan akademik yang dapat memengaruhi perjalanan studi mahasiswa dari daerah terpencil.
“Kami mengeluarkan puluhan miliar untuk beasiswa putra daerah. Ini merupakan upaya pemerintah daerah meningkatkan kualitas SDM. Teluk Bintuni bisa melakukan ini karena daerah kami memiliki sumber daya alam yang besar,” ujar Henry.
“Program BIE-D dari APKASI memang sangat bagus dan membuka kolaborasi yang baik untuk misi kemanusiaan. Hanya kami perlu mengevaluasi agar tepat sasaran dan pelajar yang menerimanya mampu mengikuti perkuliahan dengan baik sehingga meraih IPK yang baik pula.”
Perluasan Kolaborasi
Himmatul Hasanah menyampaikan bahwa kolaborasi dengan Teluk Bintuni telah berjalan dengan baik dan akan ditindaklanjuti untuk tahun mendatang. Ia menegaskan kesiapan Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara untuk memberikan pendampingan jika ada kendala yang dihadapi, termasuk dalam membantu mahasiswa penerima beasiswa yang memerlukan bimbingan khusus agar dapat menyelesaikan studi mereka.
Selain itu, Himmatul memperkenalkan sejumlah program yang tengah disiapkan untuk memperluas cakupan kolaborasi. Di bidang pendidikan dasar dan menengah, Perpukadesi menyiapkan program penguatan kompetensi guru melalui pendekatan smart teaching dan joyful learning, yang sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Di bidang ketenagakerjaan, program pengiriman tenaga migran ke Jepang turut dipaparkan sebagai opsi konkret bagi pemerintah daerah yang ingin membuka peluang kerja lebih luas bagi generasi muda, lengkap dengan pendampingan selama mereka bertugas di luar negeri.
Pertemuan ini mengukuhkan bahwa Teluk Bintuni bukan daerah yang menunggu program datang dari luar, melainkan daerah yang aktif berinvestasi pada SDM-nya sendiri dan terbuka untuk memperkuat ekosistem pendidikan lewat kemitraan yang terukur dan berdampak nyata.*
