JAKARTA – Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mengambil langkah proaktif untuk mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan menjalin komunikasi strategis bersama Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara (YPAN) dan Perkumpulan Purnabakti Kepala Daerah Seluruh Indonesia (Perpukadesi).
Dalam pertemuan di Jakarta, Rabu (24/6/2026), para pihak menyelaraskan visi terkait rencana usulan pengembangan kompetensi guru dan siswa yang ditargetkan bergulir pada Agustus mendatang. Fokus utamanya adalah penguatan literasi numerasi, inovasi pembelajaran sains, serta inisiasi pembentukan ekosistem berbahasa Inggris di sekolah-sekolah unggulan Abdya.
Langkah ini selaras dengan upaya Kabupaten Aceh Barat Daya yang terus berbenah menempatkan pendidikan sebagai motor utama pewujudan visi “Maju, Berdaya Saing, dan Sejahtera”. Letaknya yang strategis di pesisir barat-selatan Aceh—dengan potensi perikanan, pertanian, dan pariwisata yang kaya—membutuhkan generasi yang tidak hanya kuat dalam literasi dasar, tetapi juga mampu berkomunikasi global dan berpikir saintifik.
“Diskusi dan sinergi ini adalah bagian dari upaya kami menjadikan SDM sebagai investasi jangka panjang. Gagasan terkait pelatihan inovasi sains dan numerasi merupakan bentuk intervensi untuk memperkuat nalar siswa, sementara penguatan bahasa asing diharapkan mampu menyiapkan mereka menyambut peluang yang lebih luas di masa depan,” ujar Gusvizarni, Kepala Dinas Pendidikan Aceh Barat Daya, yang hadir mewakili Bupati dalam pertemuan tersebut.
Dari Penguatan Sains ke Ekosistem Bahasa
Salah satu fokus utama yang tengah dipersiapkan adalah rencana pelaksanaan bimbingan teknis untuk penguatan kapasitas pendidik di bidang sains dan numerasi. Pelatihan ini dirancang dengan visi mengubah paradigma pembelajaran dari sekadar hafalan menjadi eksplorasi berbasis eksperimen dan pemecahan masalah kontekstual.
Harapannya, guru-guru dari sekolah percontohan akan dibekali keahlian agar mampu menciptakan “laboratorium hidup” dengan memanfaatkan lingkungan sekitar Blangpidie dan daerah pesisir sebagai ruang belajar.
Selanjutnya, gagasan pembentukan ekosistem bahasa Inggris berbasis komunitas sekolah turut diinisiasi. Konsep ini dirancang untuk menciptakan budaya berbahasa yang menyebar: dimulai dari satu sekolah inti, lalu merambat ke sekolah-sekolah sekitarnya melalui efek imbas. Sistem ini menitikberatkan pada lingkungan pembelajaran yang imersif, mencakup pembiasaan harian, klub debat, hingga proyek kolaboratif antarsekolah.
Menjawab Kebutuhan Lokal, Menyasar Daya Saing Global
Dengan garis pantai sepanjang lebih dari 150 km, sektor kelautan dan pariwisata bahari menjadi andalan Abdya. Untuk bersaing secara global, kemampuan komunikasi multibahasa dan penguasaan sains terapan menjadi syarat esensial. Sinergi bersama YPAN dan Perpukadesi ini diharapkan menjadi katalis untuk memperpendek jarak antara potensi daerah dengan kapasitas SDM yang ada.
“Kami tidak sekadar menawarkan konsep, tetapi merumuskan pendekatan yang terukur dan bisa direplikasi. Di Aceh Barat Daya, kami melihat ada modal dasar yang kuat: visi luhur pemerintah daerah dan semangat belajar yang tinggi. Itu yang membuat kami optimis dalam menjajaki kolaborasi ini,” ungkap Himmatul Hasanah, Direktur Eksekutif Perpukadesi.
Pintu Masuk Kemitraan Jangka Panjang
Berbagai inisiatif pendidikan ini diproyeksikan sebagai langkah awal yang dapat membuka ruang kerja sama strategis lebih luas di masa depan, termasuk penjajakan peluang perluasan akses pendidikan tinggi bagi putra-putri terbaik Aceh Barat Daya melalui fasilitas kemitraan YPAN.
“Kami ingin meletakkan landasan yang kuat terlebih dahulu. Jika visi ini dapat terealisasi secara konsisten, bukan tidak mungkin ini menjadi model pengembangan SDM berbasis sekolah yang bisa diadopsi secara luas di Aceh,” pungkas Gusvizarni. (Farhan Aji Dharma)
